Monday, July 1, 2013

BEHAVIOR (Laporan Praktikum Fisiologi Hewan)


I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui bahwa hewan berbeda dengan tumbuhan, kemampuan iritabilitas hewan jauh lebih kompleks. Hewan dapat menunjukkan suatu respon positif maupun negative dari sebuah stimulus. Kemampuan ini disebut behavior. Behavior atau perilaku hewan adalah suatu respon dari organism terhadap stimulus yang datang dari dalam ataupun dari luar. Respon ini ada dua macam yaitu innate  dan innate.innate muncul secara spontan dan konsisten terhadap suatu rangsangan, sedangkan leraned response adalah respon yang berubah dengan adanya pengalaman dari organism tersebut. Seperti halnya hewan lainnya, lalat buah (Drosophilla melanogaster) juga dapat melakukan suatu behavior. Perilaku yang ditunjukkan merupakan perilaku orientasi yang jenisnya dapat berupa fototaksis, geotaksis dan kemotaksis. Untuk lebih mengenal perilaku hewan khususnya pada lalat buah maka dilakukan praktikum ini.


B.     Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui:
a.       Respon serangga terhadap cahaya (fototaksis)
b.      Respon serangga terhadap grafitasi (geotaksis)
c.       Respon serangga terhadap zat kimia (kemotksis)






II.                TINJAUAN PUSTAKA
Etologi dapat dibedakan dengan psikologi komparatif, yang juga mempelajari perilaku hewan, namun menguraikan studinya sebagai cabang psikologi. Jadi di mana psikologi komparatif memandang studi perilaku heawan dalam konteks dari apa yang dikenal sebagai psikologi manusia, etologi memandang studi perilaku hewan dalam konteks dari apa yang dikenal tentang anatomidan fisiologi hewan (Anonim a,2012).
 Lebih lanjut, psikolog komparatif awal berkonsentrasi pada studi pembelajaran, dan kemudian cenderung melihat pada perilaku dalam keadaan buatan, sedangkan para etolog awal berkonsentrasi pada perbuatan dalam keadaan alami, cenderung mendeskripsikannya naluriah. Kedua pendekatan ini saling melengkapi daripada bersaing, namun menimbulkan perspektif yang berbeda dan kadang-kadang bertentangan dengan pendapat tentang zat bahan. Di samping itu, selama kebanyakanabad ke-20 psikologi komparatif berkembang paling kuat di Amerika Utara, sedangkan etologi lebih kuat di Eropa, dan ini menimbulkan perhatian berbeda seperti tiang pondasi filsafat yang agak berbeda dalam kedua studi itu. Perbedaan praktik ialah bahwa psikologi komparatif berkonsentrasi pada perolehan pengetahuan luas dari perilaku spesies yang lebih sedikit, sedangkan etolog lebih tertarik dalam perolehan pengetahuan dari perilaku dalam jajaran spesies yang luas, tak sekurangnya agar bisa membuat perbandingan berdasar kuat melintasi kelompok taksonomi (Anonim a,2012)
Para etolog telah membuat lebih banyak penggunaan dari metode komparatif yang sebenarnya daripada yang pernah diperoleh para psikolog komparatif. Pola Aksi dan komunikasi hewan tertentu Langkah penting, dihubungkan dengan nama Konrad Lorenz walau kemungkinan pada gurunya, Heinroth, ialah pengenalan pola aksi tertentu. Lorenz membuatnya terkenal sebagai tanggapan naluriah yang akan terjadi yang dapat dipercaya dalam kehadiran stimuli yang dapat dikenali (disebutstimuli tanda atau stimuli pembebasan). Pola aksi tertentu ini kemudian dapat dibandingkan melintasi spesies, serta persamaan dan perbedaan antara perilaku yang dibandiangkan dengan persamaan dan perbedaan dalammorfologi yang mana taksonomi berdasar. Studi dari Anatidae (bebek dan angsa) yang penting dan banyak dikutip oleh Heinroth menggunakan teknik ini (Jalmo, 2007). 
Para etolog mencatat bahwa stimuli yang membebaskan pola aksi tertentu umumnya menonjolkan kemunculan atau perilaku anggota lain spesies mereka sendiri, dan mereka dapat menunjukkan bagaimana bentuk penting komunikasi hewan dapat ditengahi dengan pola aksi tertentu yang sedikit sederhana. Pengamatan yang paling berpengalaman dalam bidang ini ialah studi oleh Karl von Frisch dari yang disebut “bahasa tarian” mendasarikomunikasi lebah. Lorenz mengembangkan teori menarik dari evolusi komunikasi binatang berdasarkan pada pengamatannya terhadap alam pola aksi tertentu dan keadaan yang mana hewan memancarkannya (Endang, 2002).
Pengkajian prilaku merupakan cabang biologi yang relative baru, dan cenderung lebih deskriptif serta tidak begitu meyakinkan secara analitis daripada cabang-cabang lain. Salah satu bahaya menganalisis pola-pola aktivitas hewan lain adalah kecenderungan sang peneliti untuk menyamakan aksi-aksi yang mirip dengan motif, keinginan, dan tujuan manusia. Hal ini terutama krusial dalam hal tujuan, di mana kita sama sekali tak punya kemampuan untuk menentukan apa yang sebenarnya diinginkan hewan ketika menjalani serangkaian aktivitas. Intensitas dari dalam yang mendorong hewan untuk melakukan sesuatu , apapun sifatnya, disebut dorongan (drive). Etologi, pengkajian perbandingan prilaku dari prespektif evolusioner, sering kali berurusan dengan dorongan-dorongan yang berkaitan dengan kegiatan makan, seks, perawatan anak, dan lain sebagainya. Dorongan-dorongan itu tampaknya merupakan motivasi yang muncul akibat gangguan kesetimbangan internal seekor hewan. Dorongan-dorongan itu dimodifikasi oleh berbagai factor, baik factor internal maupun factor yang ada di lingkungan. Dorongan sering kali disebut insting. (George, 2005).
Dua macam respon tingkah laku adalah innate (serentak) dan learned (dipelajari), innate respon muncul seketika spontan dan konsisten terhadap suatu rangsang. Sedangkan learned respon adalah respon yang muncul tetapi berubah denga adanya pengalaman dari organisme tertsebut sehingga respon yang muncul akan lebih tepat dan sesuai dengan rangsangan yang sama diberikan berkali-kali. Orientasi adalah prilaku hewan dimana hewan tersebut akan memutar tubuhnya menjauhi atau mendekati diri / kerarh sumber rangsangan. Prilaku ini sangan mendasar pada setiap hewan untuk mencari makan, minum, sinar matahari lawan jenis, interaksi, interaksi dengan anggota kelomponya. Kinesis merupakan salah satu tingkah laku orientasi yang sederhana dimana organisme-organisme akan merespon secara tidak langsung terhadap rangsangan. Taksis juga merupakan tingkah laku orientasi untuk hewan-hewan yang dapat menentukan jarak dengan sumber rangsang. Respon yang banyak dilakukan antara lain fototaksis yaitu pengaruh rangsang cahaya terhadap suatu organisme, termotaksis yaitu pengaruh suhu terhadap organisme, geotaksis biasanya diamati dengan menjauhi atau mendekati bumi dan kemotaksis pengaruh zat kimia terhadap organisme, (Nukmal, 2012).
Untuk kelakuan naluri, rangsangan terlihat mencetuskan suatu reaksi yang stabil yang tidak berubah mengikuti keadaan. Taksis Pembawaan tubuh kea rah atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakantaksis pada hewan. Hewan menunjukkan beberapa jenis taksis yang berbeda; fototaksis adalah gerakkan terhadap cahaya, dan kemotaksismerupakan gerakkan terhadap kimia. Sebagian serangga, misalnya kupu-kupu dan lalat, menunjukkan fototaksis; serangga tersebut akan terbang terus kearah cahaya. Selalu serangga tersebut membawa dirinya dengan mengarahkan tubuhnya hingga cahaya mengenai ke dua matanya. Jika satu matanya buta, hewan akan bergerak dalam bentuk berputar-putar, selalu coba mencari arah yang memungkinkan cahaya diimbangkan di antara ke dua mata.Kemotaksis agak lazim di kalangan hewan.Serangga tertarik pada zat kimia yang disebut feromon, yang dikeluarkan oleh anggota spesiesnya pada jumlah yang sangat sedikit.Sejumlah semut akan mengikuti kesan feromon itu dan akan berputar-putar sampai mati kelelahan.Vertebrata kadangkala sangat bereaksi terhadap zat kimia. Anjing pemburu dpt melacak seseorang dengan mencium bau bajunya (Silvia, 1995).
Perilaku dihasilkan oleh gen dan factor-faktor lingkungan. Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/alam) atau oleh pengaruh lingkungan (nature/pemeliharaan). Tetapi, dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku. Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis seekor hewan. Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik (suatu ’norma reaksi’) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk penyelesaian masalah  yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik---perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik, dengan norma reaksi yang luas, (Campbell, 2002).












III.             METODE KERJA
a.      Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: Lalat buah (Drosophila melanogaster), kapas, cairan gula, air, kertas karbon, lampu senter, selotipe, almonium foil.


b.      Cara kerja
Adapun cara kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
a.      Percobaan Fototaksis
1.      Menempatkan 5 lalat buah pada tabung pelastik/kaca bersih dan gabungkan tabung kedua dengan menggunakan selotif.
2.      Menutup karbon dengan kertas karbon hitam dan membiarkan salah satu ujungnya terbuka. Meletakan tabung secara horizontal.
3.      Menyinari salah satu ujung dengan lampu (senter) selama 3 menit.
4.      Mengamati jumlah lalat buah pada tabung yang lain yang tertutup.
5.      Mengetuk tabung sehingga lalat buah berada diantara dua tabung. Melakukan hal serupa hanya dibalik, tutup dengan kertas karbon dan menyinari dengan lampu (senter) selama 3 menit.

b.      Percobaan Geotaksis
1.      Menggunakan tabung yang sama, mengambil 5 ekor lalat buah lalu memasukan kedalam tabung, membiarkan melekat pada tabung kemudian menutup dengan karbon hitam.
2.      Memegang tabung-tabung dengan posisi vertikal selama 3 menit.
3.      Membuka tutup karbon hitam dan menghitung lalat buah pada setiap tabung.
4.      Mengamati jumlah lalat buah pada tabung yang lain yang tertutup.
5.      Mengetuk tabung sehingga lalat buah berada diantara dua tabung. Melakukan hal serupa hanya dibalik, tutup dengan kertas karbon dan menyinari dengan lampu (senter) selama 3 menit

c.       Percobaan Kemotaksis
1.      Menyiapkan T-maze yang terdiri dari 3 tabung menghubungkan dengan pipa kaca.
2.      Mengisi tabung a dengan lalat buah pada sepotong alumunium poil dan pada tabung b letakan sepotong kapas basah.
3.      Amati dalam setiap 5 menit mencatat berapa banyak lalat pada tabung.
4.      Mengulangi langkah no2 dan meletakan tabung-tabung dalam ruang gelap.















IV.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
perlakuan
Jenis perilaku
Kemotaksis
Geotaksis
Fototaksis
Makanan
Tak ada makanan
Atas
Bawah
Gelap
Terang
Botol normal
6 ekor
4 ekor
1 ekor
9 eko
4 ekor
6 ekor
Botol dibalik
7 ekor
3 ekor
2 ekor
8 ekor
5 ekor
5 ekor


B.     Pembahasan
Pada tanggal 10 Desember 2012 telah dilakukan pengamatan tentang perilaku hewan Drosophila melanogaster yang bertujuan untuk mengamati respon serangga terhadap cahaya (fototaksis), grafitasi (geotaksis), dan zat kimia berupa makanan (kemotaksis). Perilaku hewan adalah suatu respon dari organism terhadap stimulus (rangsangan) yang datang dari dalam ataupun dari luar. Respon tingkah laku ada dua macam yaitu Innate (serentak) dan learned (dipelajari) respon serentak muncul secara spontan dan konsisten terhadap suatu rangsangan, sedangkan leraned response adalah respon yang berubah dengan adanya pengalaman dari organism tersebut.

Adapun langkah kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut untuk percobaan fototaksis Menempatkan 10 lalat buah pada tabung pelastik/kaca bersih dan gabungkan tabung kedua dengan menggunakan selotif. Menutup karbon dengan kertas karbon hitam dan membiarkan salah satu ujungnya terbuka. Meletakan tabung secara horizontal. Menyinari salah satu ujung dengan lampu (senter) selama 3 menit. Mengamati jumlah lalat buah pada tabung yang lain yang tertutup. Mengetuk tabung sehingga lalat buah berada diantara dua tabung. Melakukan hal serupa hanya dibalik, tutup dengan kertas karbon dan menyinari dengan lampu (senter) selama 3 menit (Nukmal, 2012).
Dari langkah kerja yang kami lakukan didapatkan hasil yaitu sebelum botol dibalik pada area terang terdapat6 ekor lalat buah sedangkan pada daerah gelap ada 4 ekor lalat buah. Sedangkan saat botol dibalik baik pada area gelap dan terang terdapat 5 lalat buah. Tujuan pembalikan botol adalah untuk menguji kebenaran atau fakta tentang perilaku hewan tersebut. Misalnya respon yang diberikan sama dengan perlakuan awal maka percobaan dianggap sah. Dari percobaan ini dapat diketahui bahwa Drosophila melanogaster memberikan respon fototaksis positif terhadap cahaya. Berdasarkan reverensi Drosophila melanogaster menyukai daerah cahaya karena hewan tersebut bukanlah jenis nocturnal serta secara umum hewan ini melakukan perkawinan di siang hari serta tidur pada malam hari (Pramudiyanti, 2009).
Untuk percobaan kedua yaitu mengetahui respon Drosophila melanogaster  terhadap gravitasi (geotaksis) langkah kerja yang kami lakukan adalah Menggunakan tabung yang sama, mengambil 10 ekor lalat buah lalu memasukan kedalam tabung, membiarkan melekat pada tabung kemudian menutup dengan karbon hitam. Memegang tabung-tabung dengan posisi vertikal selama 3 menit. Membuka tutup karbon hitam dan menghitung lalat buah pada setiap tabung. Mengamati jumlah lalat buah pada tabung yang lain yang tertutup. Mengetuk tabung sehingga lalat buah berada diantara dua tabung. Melakukan hal serupa hanya dibalik, tutup dengan kertas karbon dan menyinari dengan lampu (senter) selama 3 menit (Nukmal, 2012).

Berdasarkan percobaan didapatkan hasil pengamatan yaitu pada daerah atas terdapat 1 ekor Drosophila melanogaster sedangkan pada daerah bahaw botol terdapat 9 ekor Drosophila melanogaster. Begitu juga saat botol dibalik pada botol bagian atas terdapat 2 ekor Drosophila melanogaster. Sedangkan pada botol bagian bawah terdapat 8 ekor Drosophila melanogaster. Berdasarkan hasil pengamatan ini diketahui bahwa Drosophila melanogaster menunjukkan suatu perilaku geotaksis positif. Geotaksis positif yaitu suatu perilaku hewan dimana hewan tersebut akan mendekati kearah sumber rangsang dengan dapat menentukan jarak sumber rangsang berupa gravitasi bumi. Lalat buah memiliki 2 sayap dan semua hewan yang terbang membutuhkan energi serta keadaan istirahat dengan bertengger. Apabila hewan tersebut terbang secara terus menerus maka akan merasa kelelahan akibatnya lalat buah akan menurun kan kecepatan dan ketinggian terbang mengikuti gaya gravitasi bumi untuk mengurangi penggunaan energi secara berlebihan (Pramudiyanti, 2009).
Untuk percobaan terakhir yaitu mengetahui respon zat kimia (kemotaksis) terhadap perilaku lalat buah, langkah kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut: Menyiapkan T-maze yang terdiri dari 3 tabung menghubungkan dengan pipa kaca. Mengisi tabung a dengan lalat buah pada sepotong alumunium poil dan pada tabung b letakan sepotong kapas basah. Amati dalam setiap 5 menit mencatat berapa banyak lalat pada tabung.Mengulangi langkah no2 dan meletakan tabung-tabung dalam ruang gelap (Nukmal, 2012).
Berdasarkan percobaan didapatkan hasil pengamatan yaitu pada botol yang diberi makanan terdapat 6 ekor lalat buah, sedangkan pada botol yang tidak diberi makanan terdapat 4 ekor lalat buah. Pada botol yang dibalik terdapat 7 ekor lalat buah untuk yang ada makanannya sedangkan botol yang tidak diberi makanan terdapat 3 ekor lalat buah. Berdasarkan hasil pengamatan ini diketahui bahwa Drosophila melanogaster menunjukkan respon kemotaksis positif terhadap zat makanan. Zat makanan merupakan suatu rangsangan kimia karena disusun oleh senyawa kimia yaitu karbohidrat, lemak dan protein. Semua makhluk hdup pasti membutuhkan makanan. Lalat buah memiliki indera reseptor yang peka terhadap adanya sumber makanan. Makanan oleh lalat buah digunakan untuk membentuk energi yang dipakai untuk melakukan aktivitas hidup misalnya terbang, reproduksi, dan lain-lain.
Gerakkan/tingkah laku orientasi Drosophila melanogaster ini menunjukkan bahwa perilaku hewan ini memang sangatlah mendasar bahwa pada setiap individu lalat buah memiliki suatu insting untuk mencari/ mendapatkan makan, minum, sinar/cahaya, hubungan lawan jenis/ seks, interaksi dengan anggota kelompoknya/ menghindari predator. Perilaku dihasilkan oleh gen dan factor-faktor lingkungan. Suatu mitos yang masih diabadikan secara luas oleh media populer adalah bahwa perilaku disebabkan oleh pengaruh gen (nature/ alam) atau oleh pengaruh lingkungan.
Dalam biologi, perdebatan mengenai nature bukanlah mengenai memilih salah satu; nature atau nurture adalah mengenai derajat sejauh mana gen dan lingkungan mempengaruhi sifat fenotifik, yang meliputi sifat prilaku. Fenotif tergantung pada gen dan lingkungan; sifat atau ciri perilaku memiliki komponen genetik dan lingkungan, seperti halnya semua sifat anatomis dan fisiologis seekor hewan. Seperti ciri fenotifik lainnya, perilaku memperlihatkan suatu kisaran variasi fenotifik (suatu ’norma reaksi’) yang bergantung pada lingkungan, di mana genotip itu diekspresikan. Prilaku dapat diubah dilingkungan. Pada sisi lainnya, bentuk penyelesaian masalah yang paling berkembang ditandai oleh morma reaksi yang sangat luas. Namun demikian, perilaku juga memiliki suatu komponen genetik--- perilaku bergantung pada gen-gen yang ekspresinya menghasilkan sistim neuron yang tanggap terhadap kemajuan pembelajaran. Sebagian ciri perilaku adalah filogenetik, dengan norma reaksi yang luas.
Pembawaan tubuh kearah atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakan taksis pada hewan. Hewan menunjukkan beberapa jenis taksis yang berbeda; fototaksis adalah gerakkan terhadap cahaya, dan kemotaksis merupakan gerakkan terhadap kimia. Sebagian serangga, misalnya kupu-kupu dan lalat, menunjukkan fototaksis; serangga tersebut akan terbang terus kearah cahaya. Selalu serangga tersebut membawa dirinya dengan mengarahkan tubuhnya hingga cahaya mengenai ke dua matanya. Jika satu matanya buta, hewan akan bergerak dalam bentuk berputar-putar, selalu coba mencari arah yang memungkinkan cahaya diimbangkan di antara ke dua mata. Kemotaksis agak lazim di kalangan hewan.Serangga tertarik pada zat kimia yang disebut feromon, yang dikeluarkan oleh anggota spesiesnya pada jumlah yang sangat sedikit.Sejumlah semut akan mengikuti kesan feromon itu dan akan berputar-putar sampai mati kelelahan.




























V.                KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat kami simpulkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Perilaku hewan adalah suatu respon dari organism terhadap stimulus (rangsangan) yang datang dari ataupun luar dengan respon tingkah laku berupa innate dan learned.
2.      Tingkah laku Drosophila melanogaster merespon langsung terhadap rangsangan sehingga disebut perilaku orientasi dimana hewan akan memutar tubuhnya mendekati atau menjauhi arah sumber rangsang.
3.      Respon Drosophila melanogaster terhadap rangsangan cahaya menunjukkan fototaksis positif yaitu mendekati arah sumber cahaya.
4.      Respon Drosophila melanogaster terhadap rangsangan gravitasi adalah menunjukkan geotaksis positif karena lalat buah menyukai tempat yang lebih rendah.
5.      Respon Drosophila melanogaster terhadap zat kimia (makanan) adalah kemotaksis positif karena kebanyakan lalat buah mendekati sumber makanan.










DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 2012. Perilaku hewan. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 15
            Desember 2012.
Anonim b. 2012. Perilaku Hewan. http://wahidbiyobe.blogspot.com. Diakses
tanggal 15 Desember 2012.
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 200. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta:
            Erlangga.
Fried, George H. 2005. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Jalmo, Tri. 2007. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Unila.
Lanirin W, Endang. 2002. Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Universitas
Lampung.
Mader, Silvia S. 1995. Biologi Evolusi, Keanekaragaman, dan Lingkungan.
Malaisya: Kucica.
Nukmal, Nismah.2012. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Bandar Lampung:
            Universitas Lampung.
Pramudiyanti.2009. Biologi Umum. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Pratiwi, D.A. Sri Maryanti & Srikini. 2007. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.


No comments:

Post a Comment