Monday, July 1, 2013

LOKASI DAN SENSASI RESEPTOR PENGECAP (Laporan Praktikum Fisiologi Hewan)


I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Setiap manusia memiliki lidah. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut. Ada beberapa papilla pada lidah, antara lain Papilla sirkumvalata, fungiformis dan filiformis. Reseptor adalah ujung perifer khusus neuron-neuron aferen; reseptor berespons terhadap rangsangan tertentu, mengubah bentuk-bentuk energi rangsangan menjadi sinyal listrik, bahasa sistem saraf. Reseptor ditemukan pada panca indera kita, salah satunya pada lidah. Sensitivitas lidah terhadap rasa disebabkan adanya papilla, karena pada papilla didapatkan taste buds yang berfungsi untuk menerima rangsangan bahan kimia dari luar. Pada sisi atas dan sisi samping lidah banyak dijumpai papilla pengecap, yang jumlahnya ditaksir 2000 buah dan terletak tersebar di atas lidah. Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini mahasswa melakkan praktikum ini untuk menguji sensitivitas resetor pengecap pada manusia. Selain itu nantinya mahasiswa dapat mengetahui bagaimana mekanisme saraf yang hubungnnya dengan rasa.


A.    Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui lokasi reseptor pengecap pada manusia dan mengetahui variasi waktu sensasi.































I.                   TINJAUAN PUSTAKA
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan (papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu :
1.      Papilla bentuk benang (filiformis) disebut papilla peraba, tersebar di seluruh permukaan lidah
2.      Papilla bentuk dataran yang dikelilingi parit-parit atau berbentuk huruf V (sirkumvalata) disebut papilla pengecap, terdapat di dekat pangkal lidah atau di bagian tengah belakang yang peka terhadap rasa pahit
3.      Papilla bentuk jamur (fungiformis) disebut papilla pengecap, terdapat di tepi lidah bagian depan yang peka terhadap rasa manis, samping depan peka terhadap rasa asin, dan samping belakang peka terhadap rasa asam (Jalmo, 2007).

Tunas pengecap terdapat pada parit-parit papila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan di permukaan papilla berbentuk benang. Pengecap merupakan fungsi utama taste buds dalam rongga mulut, namun indera pembau juga sangat berperan pada persepsi pengecap. Selain itu, tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh indera pengecap taktil dari rongga mulut dan keberadaan elemen dalam makanan seperti merica, yang merangsang ujung saraf nyeri, juga berperan pada pengecap. Makna penting dari indera pengecap adalah bahwa fungsi pengecap memungkinkan manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannnya dan mungkin juga sesuai dengan kebutuhan jaringan akan substansi nutrisi tertentu (Savitri, 1997).

Indera pengecap kurang lebih terdiri dari 50 sel epitel yang termodifikasi, beberapa di antaranya disebut sel sustentakular dan lainnya disebut sel pengecap. Sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari sel disekitarnya, sehingga beberapa di antaranya adalah sel muda dan lainnya adalah sel matang yang terletak ke arah bagian tengah indera dan akan segera terurai dan larut (Guyton, 1997).
Ujung organ untuk indera pengecap yang disebut taste buds (putting cita rasa) terdiri atas sel-sel gustatory fusiform, tercampur dengan sel-sel sustakular yang terangkai dalam bentuk kelompok yang menyerupai tong. Prosesus yang menyerupai rambut dari sel-sel gustatory ini menjulur melalui pori pada bagian superficial dari putting cita rasa. Ujung serabut-serabut saraf berakhir di sekitar sel-sel gustatory ini. Bagian lidah yaitu valet dan papilla fungiform mengandung banyak sekali putting cita rasa meskipun putting itu terdapat juga pada palatum, farink, dan larink. Sensasi cita rasa di bawa kea rah dua per tiga bagian rostral lidah oleh cabang-cabang saraf fasial korda timpani yang menyertai cabang lingual dari saraf trigeminus.  Sebaliknya bagian lidah yang sepertiga (arah kaudal = posterior) menerima cita rasa melalui cabang lingual dari saraf (glosofarinkeal). Pada manusia, modalitas rasa yang spesifik ada 4, yaitu manis, asin, pahit, dan asam. Sensasi yang lain merupakan campuran dari cita rasa dasar, atau kombinasi berbagai cita rasa dengan indera penciuman. Pangkal lidah sangant peka dengan cita rasa pahit. Bagian lateral lidah memberikan (Frandson, 1992)
Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang terutama terletak  pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecapa pada lidah manusia) dan dalam jumlah yang lebih kecil pada polatum mole dan permukaan laringeal dari epiglotis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papilla sirkumvalata, papilla foliota, papilla fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel reseptor. Kuncup kecap terdiri atas sekurang-kurangnya 4 jenis sel, yang dapat dikenali dengan mikroskop electron. Sel tipe 1 dan sel tipe 2 panjang dengan mikrovili pada permukaannya. Walaupun fungsinya belom diketahui, mereka dapat membantu aktivitas sel tipe 3. Sel tipe 3 juga merupakan sel tipe panjang dicirikan oleh terdapatnya banyak vesikel yang menyerupai versikel sinaps. Tipe sel ke 4 adalah suatu sel basal pra-kembang yang mungkin merupakan precursor dari sel-sel yang lebih spesifik dalam kuncup kecap. Tonjolan dendritik dari saraf sensorik yang paling dekat dengan kumpulan vesikel sinaptik ini adalah dasar untuk penempatan penerimaan pengecapan pada sel tipe 3 (Junqueira, 1995).
Lidah mempunyai reseptor khusus yang berkaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupakan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir, dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut. Ada beberapa papilla pada lidah, antara lain: Papillae sirkumvalata. Ada delapan hingga dua belas buah dari jenis ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Papillae sirkumvalata adalah jenis papillae yang terbesar, dan masing-masing dikelilingi semacam lekukan seperti parit. Papillae ini tersusun berjejer membentuk huruf V pada bagian belakang lidah. Papillae fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah, dan berbentuk jamur. Papilae filiformis adalah yang terbanyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah. Organ ujung untuk pengecapan adalah puting-puting pengecap yang sangat banyak terdapat dalam dinding papillae sirkumvalata dan fungiforum. Papilae filiform lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. Selaput lendir langit-langit dan faring  juga bermuatan puting-puting pengecap (Widiastuti.2002).
Pada manusia, indera rasa pengecap merupakan hal yang sangat berarti, karena dengan indera rasa pengecap tersebut dapat merasakan nikmat dan enaknya makanan serta minuman. Sensasi rasa pengecap timbul akibat adanya zat kimia yang berikatan pada reseptor indera rasa pengecap (taste buds) yang kebanyakan terdapat di permukaan lidah dan palatum molle. Hanya zat kimia dalam larutan atau zat padat yang telah larut dalam saliva yang dapat berikatan dengan sel reseptor (Sherwood, 2001).
Pada hekekatnya, lidah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan indera khusus pengecap. Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsik Iidah melakukan semua gerakan halus, sementara otot extrinsik mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta melaksanakan gerakan-gerakan-kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan menelan. Lidah mengaduk-aduk makanan, menekannya pada langit-langit dan gigi. dan akhirnya mendorongnya masuk faring. Lidah terletak pada dasar mulut, sementara pembuluh darah dan urat saraf masuk dan keluar pada akarnya. Ujung serta pinggiran Iidah bersentuhan dengan gigi-gigi bawah, sementara dorsum merupakan permukaan melengkung pada bagian atas lidah. Bila lidah digulung ke belakang, maka tampaklah permukaan bawahnya yang disebut frenulum linguae, sebuah struktur ligamen halus yang mengaitkan bagian posterior lidah pada dasar mulut (Pearce, 2000).
Bagian anterior lidah bebas tidak terkait. Bila dijulurkan, maka ujung Iidah meruncing, dan bila terletak tenang di dasar mulut, maka ujung lidah berbentuk bulat. Selaput lendir (membran mukosa) lidah selalu lembab, dan pada waktu se- hat berwarna merah jambu. Permukaan atasnya seperti beludru dan ditutupi plpil-papil, yang terdiri atas tiga jenis. Papillae sirkumvalata. Ada delapan hingga dua belas buah dari jenis ini yang terletak pada bagian dasar lidah. Papillae sirkumvalata adalah jenis papillae yang terbesar, dan masing-masing dikelilingi semacam lekukan seperti parit. Papillae ini tersusun berjejer membentuk huruf V pada bagian belakang lidah. Papillae fungiformis menyebar pada permukaan ujung dan sisi lidah, dan berbentuk jamur. Papilae filiformis adalah yang terbanyak dan menyebar pada seluruh permukaan lidah (Pearce, 2000).
Organ-ujung untuk pengecapan adalah puting-puting pengecap yang sangat banyak terdapat dalam dinding papillae sirkumvalata dan fungiforum. Papilae filiform lebih berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya. Selaput lendir langit-langit dan farinx juga bermuatan puting-puting pengecap. Ada empat macam rasa kecapan: manis, pahit, asam dan asin. Kebanyakan makanan memiliki ciri harum dan ciri rasa, tetapi ciri-ciri itu merangsang ujung saraf penciuman, dan bukan ujung saraf pengecapan. Supaya dapat dirasakan, semua makanan harus menjadi cairan, serta harus sungguh-sungguh bersentuhan dengan ujung saraf yang mampu menerima rangsangan yang berbeda-beda. Puting pengecap yang berbeda-beda menimbulkan kesan rasa yang berbeda-beda juga (Campbell, 2002).
Lidah memiliki pelayanan pensarafan yang majemuk. Otot-otot lidah mendapat pensarafan dari urat saraf hipoglosus (Saraf otak kedua belas). Daya perasaannya dibagi menjadi “perasaan umum”, yang menyangkut taktil perasa seperti membedakan ukuran, bentuk, susunan, kepadatan, suhu dan sebagainya, dan “rasa pengecap khusus”. Impuls perasaan umum bergerak mulai dari bagian anterior lidah dalam serabut saraf lingual yang merupakan sebuah cabang urat saraf kranial kelima, sementara impuls indera pengecap bergerak dalam khorda timpani bersama saraf lingual, lantas kemudian bersatu dengan saraf kranial ketujuh, yaitu nervus saraf fasialis. Saraf kranial kesembilan, saraf glossofaringeal, membawa, baik impuls perasaan umum, maupun impuls perasaan khusus dari sepertiga posterior lidah. Dengan demikian indera pengecapan lidah dilayani oleh saraf kranial kez’ lima, ketujuh dan kesembilan, sementara gerakan-gerakannya dipersarafi oleh saraf kranial kedua belas (Anonim b, 2012).
Secara klinik, indera pengecap, seperti juga indera penciuman (lihat di sebelah), sangat peka dan dapat hilang karena pilek atau gangguan pada mulut, lambung dan saluran pencernaan. Glositis, atau peradangan lidah, bisa akut ataupun kronis, dengan gejala-gejala berupa adanya ulkus dan lendir yang menutupi lidah. Peradangan ini biasanya timbul pada pasien yang mengalami gangguan pencernaan. Lidah lembek dan pucat, dengan bekas-bekas gigitan pada pinggirannya. Biasanya, glositis kronis menghilang, apabila kesehatan badan membaik dan pemeliharaan higiene mulut yang baik. Lekoplakia ditandai oleh adanya bercak-bercak putih yang tebal pada permukaan lidah (juga pada selaput lendir pipi dan gusi). Hal ini biasanya terlihat pada perokok (Anonim b, 2012).






II.                METODE KERJA
A.    Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: Bubuk gula, asam jawa, garam dapur (NaCl), bubuk puyer, tusuk gigi, kapas, kertas/kertas tisu, stopwatch, air tawar untuk berkumur.


B.     Cara kerja
Adapun cara kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
1.      Membersihkan rongga mulut dengan berkumur air tawar.
2.      Meletakan bahan bubuk gula, asam jawa, garam dapur dan puyer pada ujung lidah, tepi depan, tepi belakang dan pangkal lidah tengah.
3.      Mencatat rasa dan membuat diagram. Menentukan daerah yang paling tajam rasanya terhadap masing-masing bahan.
4.      Untuk mencari atau menghitungwaktu sensasi, membersihkan mulut dengan berkumur air tawar.
5.      Menentukan waktu sensasi dengan bantuan stopwatch dengan cara mengeringkan permukaan lidah dengan kertas filter atau kertas tissue dan mempertahankan lidah diluar mulut.
6.      Meletakkan sedikit gula pada lokasi yang sudah diketahui, sambil menghidupkan stopwatch dan segera mematikan apabila sudah terasa. Mencatat waktu sensasi kemudian berkumur dengan air tawar lagi tetapi lidah tidak dikeringkan.
7.      Mengerjakan langkah 4 sampai 6 tetapi kristalnya diganti dengan asam jawa, garam dapur, dan bubuk puyer.



III.             HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
Nama Praktikan
Sensasi rasa (detik)
Asin
Asam
Manis
Pahit
Olba
2,53
4,64
-
-
Mira
9,14
13,17
-
-
Ayu
-
-
17,56
33,67
Destya
-
-
52
8,6
Keterangan: -  = tidak dilakukan oleh praktikan

B.     Pembahasan
Kami telah melakukan praktikum tentang lokasi dan sensasi reseptor pengecap pada manusia yang bertujuan untuk mengetahui lokasi reseptor pengecap pada manusia serta mengetahui variasi waktu sensasi. Menurut teori ada 4 pengecap dasar yang digunakan untuk mengetahui lokasi reseptor dan variasi waktu sensasinya, Dimana pada bagian ujung lidah lebih sensitif terhadap rasa manis, pada bagian tepi depan lidah lebih sensitif terhadap rasa asin, bagian tepi belakang lidah lebih sensitif terhadap rasa asam dan pada bagian pangkal lidah lebih sensitif terhadap rasa pahit.
Adapun langkah kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut: Membersihkan rongga mulut dengan berkumur air tawar. Meletakan bahan bubuk gula, asam jawa, garam dapur dan puyer pada ujung lidah, tepi depan, tepi belakang dan pangkal lidah tengah. Mencatat rasa dan membuat diagram. Menentukan daerah yang paling tajam rasanya terhadap masing-masing bahan. Untuk mencari atau menghitungwaktu sensasi, membersihkan mulut dengan berkumur air tawar. Menentukan waktu sensasi dengan bantuan stopwatch dengan cara mengeringkan permukaan lidah dengan kertas filter atau kertas tissue dan mempertahankan lidah diluar mulut. Meletakkan sedikit gula pada lokasi yang sudah diketahui, sambil menghidupkan stopwatch dan segera mematikan apabila sudah terasa. Mencatat waktu sensasi kemudian berkumur dengan air tawar lagi tetapi lidah tidak dikeringkan. Mengerjakan langkah yang sama tetapi kristalnya diganti dengan asam jawa, garam dapur, dan bubuk puyer (Nukmal, 2012).
Berdasarkan langkah kerja yang dilakukan didapatkan hasil yaitu sensasi pengecap rasa asin untuk praktikan Olba adalah 2,53 detik, sedangkan Mira 9, 14 detik. Sedangkan unuk rasa asam Olba adalah 4,64 detik sedangkan Mira 13,17 detik.  Untuk sensasi rasa pahit Ayu sekitar 33,67 detik sedangkan Destya 8,6 detik. Untuk sensasi rasa manis Ayu sekitar 17,56 detik sedangkan Destya sekitar 52 detik.
Berdasarkan data tersebut setiap praktikan memiliki sensari reseptor yang berbeda-beda hal tersebut terjadi adanya perbedaan genetik setiap orang yang menyebabkan berbedanya jumlah kuncup kecap di permukaan lidah. Kuncup kecap adalah salah satu sel reseptor yang menerima impuls berupa senyawa kimia rasa yang akan diteruskan ke system saraf pusat untuk diterjemahkan (Jalmo, 2007).
Setelah melakukan pengamatan didapat bahwa pada percobaan rasa asin anggota yang dapat menangkap rasa paling cepat adalah Olba yaitu hanya selama 2,53 detik yang dapat merasakan rasa pada tepi lidah bagian depannnya. Pada percobaan rasa manis yang paling cepat ialah Ayu sedangkan yang paling lama ialah Destya yang mereka rasakan pada bagian ujung lidah. Pada percobaan rasa asam yang paling cepat merasakan ialah Olba yaitu sekitar 4,64 detik sedangkan yang paling lama ialah Mira yaitu 13,17 detik mereka berdua merasakan rasa asam pada bagian tepi lidah belakang. Pada percobaan yang terakhir yaitu dengan menggunakan rasa pahit adalah yang paling lama yaitu Ayu sekitar 33, 67 detik sedangkan yang paling cepat adalah Destya sekitar 8,6 detik yang mereka berdua rasakan pada area lidah di bagian pangkal lidah tengah.
Reseptor perasa merespon stimulasi rasa dengan berbeda-beda. Rasa manis mendepolarisasi sel kecap dengan membuka channel Na+. Channel ini tertutup oleh amiloride dan biasa ditemukan pada ginjal dan sel epitel. Selain  itu, juga dengan menaktikan adenylate cyclase. cAMP akan diprduksi oleh adenylate cyclase untuk menutup channel K+. Susbtansi perasa pahit akan menstimulasi produksi IP3, yang selajutnya akan meningkatkan level Ca2+ yang akan melepaskan trasmiter sinapsis dan mengaktifasi saraf gustatory. Substansi perasa mendepolarisasi sel kecap dengan menaktifkan channel amiloride-sensitive Na+. Substansi rasa masam akan mendepolarisasi sel kecap secara langsung dengan menaikkan konsentrasi ion H+ yang menutup channel K+ (Jalmo,2007).
Rasa manis dimulai dengan melekatnya molekul gula pada porus perasa. Kemudian hal ini akan mengaktifkan stimulator yang terdapat pada sitoplasma yang terdapat pada membran. Stimulator (protein G) akan teraktivasi selanjutnya akan mengaktifkan enzim adenilat siklase. Enzim ini akan mengaktifkan pembentukan Camp dari ATP. Terjadinya peningkatan camp akan mengakibatkan terstimulasinya enzim sitoplasma lainnya. Hal ini akan membuat ion K dapat keluar sehingga mengakibatkan depolarisasi pada puting pengecap. Hal ini akan mengakibatkan terlepasnya neotransmiter ke sinaps dan selanjutnya akan diteruskan ke otak (Anonim c, 2012).
Rasa asin disebabkan masuknya ion Na. Masuknya ion Na mengakibatkan tertutupnya saluran keluar ion K. Depolarisasi mengakibatkan neotransmiter keluar, dan impuls bisa diterima oleh otak. Transtan pahit akan berikatan dengan reseptor pada membran. Pelekatan ini akan mengakibatkan teraktivasinya protein G lainnya yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase. Enzim ini akan membuat IP3 yang merupakann senyawa yang larut dalam sitoplasma yang terdapat dalam RE. Berikatan IP3 dengan reseptor akan membuat terbukanya ion Ca. Maka ion Ca akan keluar menuju Sitoplasma. Peningkatan ion Ca akan membuat saluran K terbuka dan terjadi sinaps. Tidak sepeti rasa manis dan pahit, rasa asam terjadi karena konsentrasi proteon atau ion H. Membran sanyat permeable terhadap proton ini. Masuknya proton akan membuat depolarisasi akibatnya neotransmiter dilepaskan ke sinaps. (Anonim c, 2012).
Pengecapan adalah sensasi yang dirasakan oleh kuncup kecap, yaitu reseptor yang terutama terletak  pada lidah (terdapat kurang lebih 10.000 kuncup kecapa pada lidah manusia) dan dalam jumlah yang lebih kecil pada polatum mole dan permukaan laringeal dari epiglottis. Kuncup kecap terbenam dari epitel berlapis dari papilla sirkumvalata, papilla foliota, papilla fungiformis. Bahan kimia masuk melalui pori pengecap, yaitu lubang kecil menuju ke sel-sel reseptor. Penyebaran kuncup kecap berada pada seluruh permukaan lidah sehingga setiap lidah dapat merasakan rasa pada penjuru lidahnya. Tetapi kuncup kecap menunjukkan adanya penyebaran berkelompok yaitu untuk reseptor rasa manis berada di ujung lidah, reseptor rasa pahit di pangkal lidah reseptor reasa asin di tepi lidah depan sedangkan reseptor rasa asam di tepi lidah belakang (Junqueira, 1995).
Tingkat sensitivitas lidah seseorang juga mempengaruhi kemampuannya mengecap suatu rasa. Ada beberapa hal yang mempengaruhi sensitivitas ini. Sensitivitas mungkin disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak bagus akibat dari pola makan seseorang. Hal lain yang mempengaruhi sensitivitas adalah proses pengantaran rangsang dari organ menuju otak, hal tersebut biasanya terjadi pada orang uang kondisi tubuhnya lemah (sakit) sehingga daya tanggap terhadap rangsang sedikit terganggu. Cepat lambatnya seseorang dalam mengecap rasa dapat dipengaruhi oleh kecepatan penghantaran rangsang yang diberikan jika dalam penyampaian rangsang tersebut terjadi gangguan maka dapat mempengaruhi waktu sensasi yang dihasilkan. Selain itu jenis kelamin juga kemungkinan mempengaruhi sensasi reseptor pengecap. (Jalmo, 2007).
Waktu sensasi pengecap antara wanita dan pria memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut terlalu kecil, sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap sensitifitas reseptor perasa. Hal ini juga dikarenakan secara anatomi lidah pria dan wanita tidak jauh berbeda, sehingga sensitifitas juga tidak berbeda (Jalmo, 2007).
Sensasi rasa dipengaruhi oleh saliva (air liur). Hal ini disebabkan karena saliva akan melarutkan dan mengkatalis zat yang masuk ke dalam mulut. Kuncup kecap hanya akan dapat terstimulasi bila zat tersebut telah dikatalis oleh saliva (chemoreseptor), sehingga apabila konsentrasi saliva terlalu rendah maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengkatalis zat-zat tersebut, dan semakin lambat pula respon rasa tersebut (Jalmo, 2007)
Faktor lain yang mempengaruhi reseptor perasa adalah suhu dan usia. Suhu kurang dari 20° atau lebih dari 30° akan mempengaruhi sensitifitas kuncup rasa (taste bud). Suhu yang terlalu panas akan merusak sel-sel pada kuncup rasa sehingga sensitifitas berkurang, namun keadaan ini cenderung berlangsung cepat karena sel yang rusak akan cepat diperbaiki dalam beberapa hari. Suhu yang terlalu dingin akan membius kuncup lidah sehingga sensifitas berkurang (Jalmo, 2007).
Usia mempengaruhi sensitifitas reseptor perasa. Menurut Sunariani (2007), pada orang yang berusia lanjut terdapat penurunan sensitifitas dalam menraskan rasa asin. Hal ini disebabkan pada orang berusia lanjut karena berkurangnya jumlah papilla sirkumvalata seiring dengan bertambahnya usia dan penurunan fungsi transmisi kuncup rasa pada lidah sehingga mengurangi sensasi rasa (Jalmo,2007).



IV.             KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Lidah merupakan organ panca indera yang terdiri atas otot dengan adanya  reseptor pengecap sebagai taste bud untuk menerima impuls kimia pada makanan yang kemudian akan diteruskan ke system saraf pusat untuk diterjemahkan.
2.      Manusia memiliki 4 macam modalitas cita rasa dasar yang spesifik, yaitu: manis pada ujung lidah, asin pada tepi depan, asam pada tepi belakang, dan pahit pada pangkal lidah, akibat dari taste bud yang berbeda-beda.
3.      Waktu sensasi reseptor setiap orang adalah berbeda-beda, hal tersebut terjadi akibat sensitivitas taste bud dalam menerima impuls dari zat kimia serta perbedaan genetis setiap orang.
4.      Setiap orang memiliki lokasi reseptor yang berbeda-beda. Secara umum kuncup kecap ditemukan pada seluruh permukaan lidah tetapi untuk rasa manis didominasi di daerah ujung lidah, rasa asin di tepi depan lidah, rasa asam di tepi belakang lidah dan untuk rasa pahit di bagian pangkal tengah lidah.
5.      Tingkat sensitivitas lidah seseorang mempengaruhi kemampuannya mengecap suatu rasa. Sensitivitas disebabkan struktur dari lidah itu sendiri yang rusak atau tidak bagus akibat dari pola makan seseorang.









DAFTAR PUSTAKA
Anonim a. 2012. Lokasi dan sensasi Reseptor pengecap. http://kholishin-
kloning. blogspot.com/. Diakses tanggal 15 Desember 2012.
Anonim b.2012. Reseptor Pengecap. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 15
Desember 2012.
Anonim c. 2012. Lokasi dan sensasi Reseptor pengecap. http://cocoexperiment
.blogspot.com.  Diakses tanggal 15 Desember 2012.
Campbell, N.A.,J.B. Reece, & Mitchell. 200. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta:
            Erlangga.
Frandson, Boron WF & Boulpeap EL. 1992. Medical physiology. Jakarta:
Penerbit EGC.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Irawati S. Ed. ke-9.
Jakarta: Penerbit EGC.
Jalmo, Tri. 2007. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Bandar Lampung: Unila
Junqueira, L. Carlos, Jose Carneiro &Robert Kelley. 1995. Histologi Dasar.
Jakarta: Penerbit EGC.
Nukmal, Nismah. 2012. Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Bandar Lampung:
Unila.
Pearce, E.C, 2000, Anatomi & Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT. Gramedia.
Savitri, Diah Ernawati. 1997. Kelainan Jaringan Mulut. Jakarta: Majalah
Kedokteran Gigi.
Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia. Ed. ke-2. Jakarta: Penerbit EGC.
Widiastuti, Sri. 2002. Indera Pengecap. http://sriwidii.blogspot.com. Diakses
tanggal 15 Desember 2012

1 comment: